
Kegagalan berbisnis sudah risiko pengusaha. Namun, adanya strategi
bisa mengurangi risiko itu. Juga harus tahu, ada 6 kesalahan laten yang
bisa membunuh bisnis tanpa disadari.
Hal ini terungkap dalam forum diskusi Indonesia
Islamic Business Forum (IIBF) bekerja sama dengan komunitas Tangan di
Atas (TDA) Balikpapan yang menggelar bincang bisnis di Gedung Biru
Kaltim Post Km 3,5 Balikpapan Minggu (14/9) kemarin.
Dalam sharing bertema “Mendesain Bisnis Anti-Gagal & Tanpa Utang” itu, hadir 25 pengusaha se-Balikpapan yang berdiskusi dengan keynote speaker Didik Sukoco, voluntary coach IIBF.
Didik, sapaan akrabnya, menyebut dengan strategi yang tepat, keberhasilan dalam bisnis mencapai 80 persen. Sisanya tergantung doa, kegigihan usaha, dan tawakal.
“Jadi yang dipelajari yaitu bagaimana mengetahui dan memiliki strategi untuk menghindari enam kesalahan pebisnis yang mematikan. Merancang bisnis yang profitable dan sustainable serta membangun kredibilitas,” terangnya kepada peserta bincang bisnis.
Didik menjelaskan, enam kesalahan terbesar yang sering dilakukan pengusaha itu yang pertama cenderung memiliki obsesi tinggi terhadap produk dan ide bagus yang dimiliki. Namun tak menyadari, bahwa pasar bisa saja merespons negatif.
Karena fakta mengatakan, sejauh ini pasar parameternya adalah need, sehingga produk hebat atau jenius sekalipun, bisa tak laku ketika need pasar tidak ke arah sana.
“Formula suksesnya bisa dilakukan dengan berusaha menemukan apa yang sedang dicari pasar. Go and get it,” ujarnya.
Dalam konteks ide, inovasi memang penting untuk bisnis yang dirintis. Namun jangan sampai over-confident.
Didik menitikberatkan pada keluhan, keresahan atau masalah yang muncul dari produk yang dihasilkan. Intinya, jangan pernah mudah puas dan sudah merasa produknya paling hebat.
“Bisnis itu intelektual. Ketika pebisnis berhasil menciptakan suatu produk atau ide yang cemerlang, jangan terlalu optimistis bahwa produk atau ide yang dimiliki paling bagus. Justru yang harus dilakukan yakni mengkritisi ide tersebut dengan pertanyaan yang kritis,” imbaunya.
Kesalahan kedua, seorang pebisnis memiliki kecenderungan ingin memperoleh hasil atau keuntungan dalam waktu instan. Didik mengingatkan bahwa kecepatan bisa membunuh. Bisnis yang baik adalah yang dibangun dengan matang dan sudah paham berbagai risiko kegagalan. Tidak pernah ada bisnis instan yang berkelanjutan.
“Grow fast is OK. But speed is kills. Stay in line, sabar dan ikuti tahapan dalam berbisnis dengan disiplin,” katanya.
Kesalahan ketiga yang juga fatal, adalah mengira technical skill yang dimiliki merupakan kunci sukses untuk memulai bisnis. Contohnya, ketika seseorang yang memiliki keahlian masak memilih menjalankan bisnis restoran.
“Ide terburuk bagi koki yaitu ketika dia membuka bisnis rumah makan. Karena waktunya akan dia habiskan untuk dapur. Padahal uang tidak datang dari dapur,” tutur Didik.
Dia melanjutkan, uang datang dari business skill. Karena itu pebisnis—atau si koki tadi—harus memahami teori cash flow, marketing, finance, accounting, experience, dan management waktu yang bagus.
“Bukan saya mengatakan skill sebagai penghambat dalam berbisnis. Tapi yang diperlukan ketika memutuskan untuk terjun dalam dunia bisnis yaitu mempelajari ilmu-ilmu bisnis,” lanjutnya.
Optimistis yang berlebihan juga merupakan kesalahan besar. Bisnis merupakan olahraga intelektual bukan mengandalkan emosi dan perasaan. Sering juga, saat bertemu ‘peluang’ pengusaha cenderung mengabaikan risiko atau masukan dari orang lain.
“Ini merupakan kesalahan besar juga. Solusinya belajar untuk mengkritisi sebuah peluang atau ide yang muncul. Bukan dilihat keuntungannya saja, risiko juga harus dipertimbangkan dan diperhitungkan,” terangnya.
Kesalahan yang bisa mematikan bisnis selanjutnya yaitu miskin inovasi. Setelah menentukan sebuah ide, seiring berjalan juga diperlukan inovasi untuk menunjang bisnis. Hal ini untuk menghindari perubahan dari perilaku konsumen, peta persaingan yang telah berubah, kompetitor yang semakin bertambah dan tren yang terus berubah.
“Solusinya pengusaha harus banyak belajar, selalu mengamati kompetitor dan cari perbedaan lain yang menguntungkan,” ujarnya.
Kesalahan terakhir atau keenam adalah saat pebisnis kehabisan uang kas. Dikatakan Didik, hal ini lantaran pengusaha tersebut tidak bisa membedakan antara profit dan uang kas. Ini juga bisa saja terjadi karena perencanaan bisnis yang lemah, terobsesi kepada ide atau produk, tidak menemukan ceruk pasar.
Faktor lainnya seperti, tidak adanya nilai tambah dalam produk, tidak ada diferensiasi, tidak memiliki skill bisnis yang cukup sehingga bisnis tidak tumbuh karena mendapat rugi yang berkepanjangan, tidak berpikir dengan serius dan terlalu cepat membesarkan bisnis yang dimiliki.
“Pengusaha harus memiliki tiga laporan keuangan dari bisnis yang dijalankan. Supaya dapat membedakan antara profit dan uang kas. Di mana harus ada laporan keuangan terkait untung dan rugi, arus kas dan neraca perdagangan. Itu wajib dimiliki seorang pebisnis,” tuturnya.
Sumber: http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/99203-strategi-jitu-80-persen-berhasil.html
-------------------------
Gabung dengan Facebook Page TDA Balikpapan untuk mendapatkan pengumuman dan undangan event, motivasi bisnis dan lain-lain.
Gabung dengan Komunitas TDA Balikpapan di aplikasi sosial Telegram untuk Android, iPhone atau desktop.





0 comments:
Post a Comment